|
Apakah penderita Diabetes Mellitus boleh berpuasa di bulan Ramadhan?
Bagi umat Muslim, berpuasa merupakan Rukun Islam yang ke-4, yang berarti hukumnya wajib. Bagi Anda penderita Diabetes Mellitus (diabetesi) boleh saja berpuasa selama gula darah Anda terkendali.
“Dalam keadaan terkendali, baik, dan sedang tidak menderita penyakit lain atau komplikasi berat, diabetesi termasuk orang yang cukup sehat, karena itu mereka boleh berpuasa. Bahkan pada sebagian diabetesi, pada akhir bulan puasa biasanya terjadi penurunan kadar gula dan kadar kolesterol”, demikian diungkapkan oleh Prof. dr. Sri Hartini Kariadi, SpPD-KEMD.
Untuk mengendalikan kadar gula darah secara alami, Tara Nature Diablast dapat dijadikan pilihan yang tepat.
Apa yang perlu diperhatikan oleh diabetesi selama berpuasa?
Hal yang perlu diingat, diabetesi yang ingin berpuasa sebaiknya rutin mengontrol kadar gula darahnya, minimal satu bulan sebelum berpuasa. “Kadar gula yang baik adalah tidak lebih dari 180 mg/dl. Saat berpuasa, usahakan kadar gula darah puasa < 110 mg/dl dan gula darah 2 jam setelah makan < 160 mg/dl. Jika gula darah turun hingga di bawah 63 mg/dl (hipoglikemi), maka segeralah berbuka, karena hal ini bisa mengakibatkan kerusakan otak yang tidak bisa dipulihkan”, demikian diungkapkan oleh dr. Kasim Rasjidi, Sp.PD.
Selain mengatur pola makan, pengidap diabetesi juga harus rajin berolah raga, sebab olah raga membantu tubuh untuk menyerap semua gula yang beredar di dalam tubuh secara maksimal.
Olah raga biasanya identik dengan keluarnya keringat, sehingga membuat orang cepat haus. Olah raga apakah yang tepat bagi diabetesi?
“Jangan selalu mengidentikkan olah raga dengan cucuran keringat berlebihan, khususnya bagi pengidap diabetes,” ucap Dr. Michael Triangto, SpOK, spesialis kedokteran olah raga dari Slim+Health Sports Therapy.
Olah raga yang cocok bagi diabetesi adalah :
- Olah raga yang bersifat aerobik, yang membakar kalori dan mengurangi lemak tubuh.
- Dapat meningkatkan sirkulasi darah di kaki dan tangan.
- Dapat mengurangi stress, yang biasanya menjadi salah satu pemicu kenaikan gula darah.
Jangan samakan olah raga aerobik dengan senam aerobik yang memiliki gerakan berulang-ulang dalam jangka waktu pendek, sehingga terasa lebih berat. Akibatnya diabetesi akan mudah terengah-engah dan lebih cepat mengalami penurunan gula darah.
Olah raga sebaiknya dilakukan menjelang berbuka puasa. Dr. Michael menyebutkan, “Jalan cepat atau bersepeda santai dapat dijadikan pilihan. Tapi, sebelum melakukan olahraga tersebut, Dr. Michael mengingatkan untuk melihat apakah ada penyakit lain yang menyertai Diabetes. Sebab, bisa saja olahraga yang dilakukan baik untuk Diabetesnya, tapi tidak untuk komplikasi penyakit lain yang dialami.
Parameter untuk ini adalah pengukuran denyut jantung dengan rumus 220 dikurangi usia (dalam tahun). Hasil dari rumus itu adalah 100% dari denyut jantung untuk pengidap Diabetes, batasan denyut jantung yang aman saat berolah raga adalah 50-70% dari denyut jantung maksimal.
Misalnya, pengidap Diabetes berusia 30 tahun, maka denyut maksimalnya adalah 190 kali per menit. Batasan denyut jantung ketika berjalan atau bersepeda santai haruslah 80-133 kali per menit. Artinya, jika kurang dari 80 kali, maka latihan yang dilakukan kurang bermanfaat, tapi kalau lebih dari 133 kali, itu berbahaya.
Olah raga yang dilakukan dengan teratur dalam jangka waktu panjang dapat membantu otot menyerap gula atau glukosa yang beredar di dalam tubuh. Umumnya tubuh diabetesi sulit menyerap gula, karena itu dibutuhkan insulin yang lebih banyak agar glukosa yang ditumpuk dapat diserap. Dengan melatih otot yang bersifat aerobik, sensitivitas tubuh terhadap glukosa akan meningkat, hasilnya kadar gula darah lebih stabil. Bahkan bagi diabetesi tahap awal, olah raga teratur mampu melepaskan diabetesi dari ketergantungan obat.
|