HEPATITIS Penyakit Hati Yang Tidak Boleh Diabaikan
Mungkin sehari-hari kita lebih mengenal “sakit kuning” dibandingkan dengan hepatitis. Tanpa disadari banyak sekali fenomena penyakit hepatitis yang terjadi di sekitar kita. Penyakit ini memang jarang mewabah, akan tetapi tidak sedikit pula orang yang terkena. Organ yang terserang adalah liver. Liver sama dengan hepar yang berarti hati, yaitu organ dalam yang paling besar dan penting peranannya, terutama dalam metabolisme/perncernaan segala jenis makanan. Tugas liver antara lain : menyimpan makanan, terutama gula, lemak, dan sedikit protein, membuat protein plasma (darah) dan zat pembeku darah, penyaring dan pembuang bahan beracun di dalam darah melalui proses pembongkaran hemoglobin (bagian dari sel darah merah), pembentukan dan pengeluaran lemak dan kolesterol dan membentuk sel-sel darah merah pada bayi yang masih dalam kandungan.
Penyebab dan gejala hepatitis
Istilah hepatitis sendiri dipakai untuk semua jenis peradangan pada liver. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan dan alkohol. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, Hepatitis A, Hepatitis B, C, D, E, F, dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut (hepatitis A dan E), bisa kronik (hepatitis B dan C) dan bisa juga kemudian menjadi kanker hati (hepatitis B dan C).
Anggota Delegasi RI dalam sidang WHO, Dr. David H. Muljono memperkirakan 500 juta manusia di dunia terinfeksi Hepatitis B dan C, dan lebih dari 600 ribu orang di dunia meninggal akibat komplikasi dari Hepatitis B dan C setiap tahunnya.
Data WHO juga menunjukkan bahwa dari berbagai penyebab kanker, 5-10 persen disebabkan oleh Hepatitis B dan C. Dari seluruh carrier Hepatitis B di dunia, sekitar 75% terdapat di wilayah Asia Pasifik. Di Indonesia, sendiri diperkirakan sekitar 10 % merupakan carrier Hepatitis B. Melihat data yang ada, tepatlah bila menjadikan hepatitis sebagai salah satu agenda kesehatan global. Pengobatan Hepatitis B dan C, terutama yang mengalami komplikasi membutuhkan biaya yang sangat mahal dan belum tentu memuaskan.
Karena itu, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada sidang Badan Eksekutif WHO ke-126 pada tanggal 23 Januari 2010 lalu, menyetujui usulan delegasi Indonesia untuk menetapkan 28 Juli sebagai Hari Hepatitis Dunia. Tanggal tersebut diambil dari tanggal kelahiran Dr. Baruch S. Blumberg, pemenang hadiah Nobel tahun 1976 yang menemukan virus hepatitis B dan mengembangkan vaksin hepatitis B untuk pertama kalinya.
Kita harus benar-benar waspada, bahaya penyakit hepatitis terkadang bersifat laten. Liver mengalami kerusakan tanpa menimbulkan gejala yang dapat disadari oleh penderita. Gejala klinis baru disadari saat liver sudah dalam kondisi parah.
Pada fase awal, penderita penyakit Hepatitis belum merasakan gejala yang spesifik. Keluhan yang umum dirasakan penderita adalah mual, muntah, tidak nafsu makan, lemas, mudah lelah, dan stamina yang menurun. Nafsu makan yang buruk, dan nyeri ulu hati sering dijumpai pada hepatitis akut atau hepatitis kronis yang telah berkembang menjadi sirosis (pengerasan hati). Gejala-gejala tersebut di atas juga biasa disertai dengan demam.
Gejala fisik yang mudah terlihat adalah urine berwarna gelap, feses berwarna putih, sedangkan kuku, kulit, dan bagian putih mata berwarna kuning karena adanya bilirubin yang berlebihan dalam plasma darah. Bilirubin adalah zat warna yang diproduksi hati ketika sel-sel darah merah yang rusak diolah dan masuk ke dalam usus dan darah menyebabkan warna kulit dan putih mata menjadi kuning.
Pencegahan Hepatitis
Upaya pencegahan terhadap hepatitis disesuaikan dengan pola penyebaran yang berbeda-beda pada tiap jenis hepatitis, yaitu Hepatitis A dan E menular melalui makanan dan minuman yang tercemar feses penderita. Kebiasaan jajan makanan dan minuman di sembarang tempat meningkatkan resiko tertular hepatitis A dan E. Makanan mentah maupun setengah matang berpotensi terkontaminasi virus ini.
Hepatitis B, C, dan D menular melalui transfusi darah, jarum suntik, dan tato. Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain tidak menggunakan barang orang lain, barang-barang lain, barang-barang yang dapat menyebabkan luka dapat menjadi media penularan virus Hepatitis B, C, dan D, antara lain pisau cukur, gunting kuku, sikat gigi, dan lain-lain. Virus Hepatitis B dan C juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan beresiko tinggi dalam penularan Hepatitis B dan C.
Imunisasi merupakan pencegahan yang sangat efektif terhadap virus Hepatitis. Setelah imunisasi, tubuh akan menghasilkan antibodi yang merupakan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut.
Menteri Kesehatan RI, Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, dalam pernyataan di hadapan Dewan Eksekutif WHO menjelaskan pentingnya resolusi untuk membantu negara-negara berkembang guna meningkatkan kemampuan pencegahan dan penanganan penyakit hepatitis. Realisasi yang diharapkan dari dicanangkannya resolusi tersebut adalah meningkatnya kerja sama dan bantuan teknik untuk survailans serta akses dan harga vaksin hepatitis B yang terjangkau, dan akses universal terhadap pengobatan, khususnya di negara berkembang.
Setelah melalui serangkaian penelitian, para pakar menemukan temulawak dan kunyit adalah herbal asli Indonesia yang terbukti berkhasiat mengatasi Hepatitis. Baik temulawak maupun kunyit mengandung senyawa-senyawa penting, antara lain minyak atsiri tellandrean, turmerol, glukosida, toluymetik karbinol, dan kurkumin. Kurkumin diketahui sebagai zat yang sangat bermanfaat, terutama sebagai hepatoprotektor (menjaga kesehatan hati) dan antioksidan.
Di hati, kurkumin bekerja dengan mekanisme menghambat enzim sitokrom P450, yang bertanggung jawab menyuplai makanan bagi virus dan mengaktifkan toksin (racun) yang dihasilkan oleh virus. Dengan dihambatnya enzim ini, maka virus akan mati dan pembentukan toksin oleh virus pun dihambat.
Untuk mendapatkan herbal-herbal ini dalam bentuk ekstrak, sehingga tidak mengendap di ginjal, FitA-Liv merupakan minuman instant yang tepat Anda pilih.
| < Prev | Next > |
|---|



