Home Artikel Produk dan Kesehatan Penyakit Jantung Koroner Bukan Lagi Penyakit Orang Tua

Penyakit Jantung Koroner Bukan Lagi Penyakit Orang Tua

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab kematian utama di dunia saat ini. Apalagi penderitanya mulai bergeser ke kelompok usia muda, demikian diungkapkan oleh dr. Djoko Maryono, ahli internis kardiologis RS Pusat Pertamina, Jakarta. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan gaya hidup.
Ungkapan di atas didukung pula oleh Guru Besar UI Prof. Dr. Dede Kusmana yang menyatakan 99 % penyakit jantung memang disebabkan oleh perubahan pola dan gaya hidup. Perubahan itu membuat masyarakat kurang aktif bergerak, mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, merokok, dan stress.

Di Indonesia, Penyakit Jantung Koroner juga menempati peringkat pertama sebagai penyakit penyebab kematian, Adapun penyakit jantung yang paling sering menyebabkan kematian adalah Penyakit Jantung Koroner (PJK), dengan angka kejadian mencapai 50% dan angka kematian mencapai lebih dari 80%, demikian ditulis oleh Irfan Arief pada Tabloid Profesi Kardiovaskuler.

Penyebab utama Penyakit Jantung Koroner adalah penyempitan pembuluh darah koroner (pembuluh darah yang mengalirkan darah yang mengangkut oksigen dan nutrisi ke otot jantung), di mana arteri/pembuluh darah tersebut menjadi lebih keras dan sempit, sehingga menyebabkan aliran darah ke otot jantung berkurang. Penyempitan ini disebabkan oleh adanya tumpukan lemak pada dinding pembuluh darah yang disebut sebagai plak aterosklerosis.

Ukuran plak semakin lama akan semakin besar, sehingga aliran darah dan suplai oksigen ke otot jantung juga berkurang. Keadaan ini dapat menyebabkan nyeri pada dada (sering disebut sebagai angina) dan serangan jantung (heart attack). Serangan jantung akan terjadi bila plak menutupi sebagian besar lumen pembuluh darah arteri sehingga jantung benar-benar kurang mendapatkan darah yang kaya akan oksigen. Keadaan ini dapat menyebabkan kerusakan/kematian sel otot jantung yang bersifat permanen.

Gejala Penyakit Jantung Koroner tidak terlalu signifikan, bahkan cenderung mirip dengan gejala masuk angin, seperti :

  1. Dada terasa sakit dan seperti tertekan.
  2. Pusing kepala yang berkepanjangan.
  3. Sekujur tubuh terasa terbakar tanpa sebab.
  4. Terjadi keluhan di sekitar tulang dada dan leher.
  5. Kebanyakan orang tidak mengalami gejala-gejala di atas, tiba-tiba saja jantung penderita bermasalah dan sudah dalam kondisi kronis. Menurut dr. Hananto Andriantoro, SpJP, FIHA, ahli jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, saat kerja jantung meningkat, tekanan darah meningkat dan denyut jantung pun naik, terutama saat sedang gembira, cemas, kaget, berolahraga atau ketika stress menyerang. Dalam kondisi ini, otomatis jantung bekerja lebih keras lagi dan membutuhkan oksigen lebih banyak. Bila kondisi pembuluh darah arteri koroner sudah menyempit bahkan tersumbat, maka darah tidak bisa mengalir, dan terjadilah serangan jantung yang mematikan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati, itulah pepatah yang cocok diterapkan untuk menghindari serangan jantung. Bagaimana mendeteksi Penyakit Jantung Koroner? Kita dapat melakukannya dengan cara yang sederhana, tandailah kolom ya/tidak pada tabel berikut, semakin banyak jawaban ya, maka semakin tinggi resiko Penyakit Jantung Koroner :

Ya Tdk
a. Usia >45 tahun bagi pria, dan >55 tahun bagi wanita, atau sudah menopause. [    ] [    ]
b. Memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami PJK atau STROKE. [    ] [    ]
c. Pernah atau sedang mengalami gangguan kadar kolesterol tinggi. [    ] [    ]
d. Pernah atau sedang mengalami Hipertensi/tekanan darah tinggi. [    ] [    ]
e. Menderita Diabetes Mellitus atau kencing manis. [    ] [    ]
f. Sering mengonsumsi makanan berlemak, fast food, dan gorengan. [    ] [    ]
g. Memiliki kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol. [    ] [    ]
h. Memiliki berat badan di atas normal (kegemukan). [    ] [    ]
i. Jarang atau bahkan tidak pernah berolah raga. [    ] [    ]
j. Sering stress [    ] [    ]

Bila dokter sudah mendiagnosa gejala Penyakit Jantung Koroner (PJK), dibutuhkan tindaan deteksi selanjutnya, seperti :

  1. Pemeriksaan uji latih jantung (Treadmill Test), yang mampu mendeteksi 80% orang yang sudah mengalami penyempitan pembuluh koroner, meskipun orang tersebut tidak mengalami keluhan atau gejala sakit dada. Deteksi ini penting, terutama bagi mereka yang berusia 40 tahun ke atas, atau yang mempunyai faktor resiko.
  2. Kateterisasi jantung, yaitu memasukkan pipa lentur ke dalam jantung untuk memotret pembuluh darah dan mendeteksi tingkat penyempitan.
  3. Pemeriksaan scaning ultrafast, yang bisa menunjukkan adanya plak pengapuran sebesar 2 mm di pembuluh darah.
  4. Dll.

Upaya untuk mencegah Penyakit Jantung Koroner dicakup dalam slogan Panca Upaya Kesehatan Jantung yang dicanangkan oleh Yayasan Jantung Indonesia, yaitu “SEHAT”, yang merupakan singkatan dari :

  • Seimbangkan gizi.
  • Enyahkan rokok.
  • Hindari stress.
  • Atasi tekanan darah tinggi.
  • Teratur berolah raga.

Upaya ini tentu saja akan lebih terbantu lagi dengan adanya hasil penelitian dari para pakar, yang menyatkan asam lemak esensial Omega-3 dapat membantu mencegah Penyakit Jantung Koroner.

Dr. Bang & Dyerberg adalah peneliti yang pertama kali tertarik dengan kenyataan bahwa masyarakat Eskimo di Greenland yang sehari-harinya mengonsumsi makanan berlemak tinggi, tapi jarang sekali yang meninggal karena serangan jantung. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata setiap hari masyarakat Eskimo mengonsumsi ikan segar dari perairan laut dalam yang sangat kaya akan Omega-3.

Kini peran Omega-3 dalam menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida dan mencegah serangan jantung telah diakui secara internatsional lewat berbagai penelitian ilmiah, antara lain :

  1. Omega-3 mampu menurunkan kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) dan meningkatkan kolesterol HDL (High Density Lipoprotein), menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah.
  2. Omega-3 mampu mencegah aterosklerosis yang merupakan penyebab utama dari penyakit jantung dan stroke. D. Roger Illingworth, William S. Harris, dan William E. Connor melakukan penelitian terhadap pasien dengan kadar LDL dan trigliserida tinggi. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kadar kolesterol  LDL  dan kadar trigliserida pada seluruh pasien setelah 4 minggu mengonsumsi Omega-3.
  3. Penelitian lain tentang manfaat Omega-3 dilakukan oleh DN Caroll dan MT Roth. Mereka menggabungkan semua penelitian (1966-April 2002) tentang efek Omega-3 terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi Omega-3 dapat menurunkan resiko kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah hingga 52% dan menurunkan resiko kematian akibat serangan jantung hingga 81%.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Barber HJ, kombinasi Omega-3 dan Omega-6 dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan menurunkan resiko terjadinya aterosklerosis secara lebih efektif.

Untuk mendapatkan Omega-3, kita dianjurkan mengonsumsi ikan dari perairan laut dalam yang merupakan sumber asam lemak Omega-3 yang paling tinggi, seperti salmon, tuna, makarel, dll. nature epaSayangnya seperti diungkapkan oleh Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, konsumsi ikan belum menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita, selain itu cara pengolahan ikan dengan pemanasan pun kerap mengurangi konsentrasi Omega-3. Karena itulah kita membutuhkan Nature EPA Omega-3 Plus.



 

Untuk menuliskan komentar, silakan login dulu.

Pooling
Artikel yang paling sering Anda baca/Anda cari?